Untuk Pemerintah, tentang BBM dan TDL
May 7th, 2008 by jkidolakuSalam untuk Bapak Jusuf Kalla dari saya mewakili Jusuf Kalla Unofficial Fans Club. Maaf sebelumnya karena saya tidak menemukan forum yang tepat untuk mengirim pesan bagi seorang wakil Presiden RI. Tinggi’nya harga minyak telah membuat seluruh lapisan masyarakat kewalahan. Membeli bensin untuk mobil pribadi mahal, harga minyak tanah untuk memasak mahal, ongkos solar untuk menjalankan truk juga menjadi mahal. Saya lihat di koran pemerintah terfokus perhatiannya pada penyiasatan konsumsi BBM ini. Smart card salah satunya, penghematan solusi lainnya, kenaikan harga BBM alternatif terakhir. Pada akhirnya saat ini TDL telah dinaikkan. Kenaikan ini adalah hal yang tidak dapat dihindari.
Sekedar pemikiran saja pak JK. Sebagai rakyat Indonesia yang berkewajiban untuk berjuang bagi bangsa dan negaranya, saya pun merenung apa yang saya butuhkan dari negara untuk dapat melakukan kewajiban saya itu ? Pada dasarnya negara dan rakyat harus bekerja sama, tidak bisa rakyat melulu berjuang tanpa dukungan dari negaranya. Yang paling saya butuhkan sebenarnya adalah melimpah ruahnya kegiatan kegiatan yang bisa menuai kesuksesan diri. Sebagai seorang rakyat Indonesia etnis cina, sayang sekali karena mengikuti tradisi yang sudah ada, saya hanya bisa dianggap sukses kalau menjadi pengusaha. Sebagai non etnis cina pun kesempatan untuk sukses hanya didapat oleh orang yang menjadi antara lain pengusaha, dokter, abri, pns (pejabat) dan polri. Tidak ada nilai sukses yang berarti bagi rakyat Indonesia yang menjadi pemahat, teknisi, nelayan kecil, petani kecil, pelukis, pengarang lagu, pemijat, dll. Tentu saja saya sebagai rakyat Indonesia terus berjuang supaya keadaan ideal itu bisa terwujud pak JK. Untuk itu pak JK saya hanya meminta pemerintah membuat saya sehat selalu dan memberi saya pendidikan dan wawasan agar saya bisa terus maju dengan mobilitas dan efektifitas yang tinggi.
Bapak JK, saya tidak butuh uang tambahan untuk membeli BBM, saya tidak butuh subsidi untuk membayar listrik, saya bisa mencari tambahan atas semua itu kalau kesehatan saya bisa dijaga oleh negara. Selama rakyat sehat, rakyat akan berjuang sendiri, berhemat sendiri untuk menebus selisih harga-harga tersebut. Rakyat juga bisa mencari cara-cara baru untuk mendapatkan hasil yang lebih efektif kalau pikiran mereka tidak miskin ilmu dan pendidikan. Bahkan bangsa Amerika pun tidak mampu memberikan pelayanan kesehatan yang memadai bagi rakyatnya bapak JK. Ketika seorang rakyat amerika terpotong 3 jarinya di sebuah sawmill dia tidak bisa mendapatkan kompensasi asuransi untuk membayar ongkos pengobatan yang mencapai ratusan juta rupiah dikarenakan pekerjaan’nya di sawmill adalah pekerjaan beresiko tinggi yang tidak dilindungi oleh asuransi. Prof Uwe Reinhardt seorang pengamat ekonomi di Princeton University pernah mengatakan apabila seluruh rakyat Amerika disubsidi kesehatannya oleh negara baik itu anak seorang investment banker atau anak petani kecil, Amerika membutuhkan 10 billion USD. Kemarin saya melihat bahwa kenaikan subsidi BBM mencapai 294 triliun rupiah yang berarti 27-28 billion USD. Jumlah yang jauh lebih besar daripada 10 billion USD. Apabila fakta ini benar, dan karena rakyat Indonesia jumlahnya hampir sama dengan rakyat Amerika, bukankah masuk akal kalau kesehatan gratis bagi seluruh rakyat Indonesia ini diwujudkan apabila subsidi BBM dihapus total, bahkan kalau ada sisa bukankah sisa’nya bisa digunakan untuk hal-hal lain yang positifl ? Saya hanya memohon agar negara kita tidak melakukan pengeluaran anggaran yang salah kaprah seperti Amerika yang memboroskan APBN’nya sendiri hanya untuk menginvasi Irak. Mohon maaf bila saya menghadapkan bapak pada informasi yang sepotong-sepotong. Sekali lagi bapak, saya rasa saya tidak berkeberatan untuk membayar BBM dan TDL sesuai harga pasar yang layak kalau bapak mau membayar ongkos pengobatan saya ketika saya sakit, dan membiayai pendidikan anak saya supaya dia bisa mempunyai ilmu dan keahlian yang lebih mumpuni untuk berjuang lebih baik demi negara ini. Saya bisa hidup tanpa bensin dan lampu, tapi saya tidak bisa hidup tanpa kesehatan dan pendidikan yang baik dalam rangka mencari alternatif dari bensin dan lampu tersebut.
Sekali lagi bapak, saya tidak membutuhkan bensin dan listrik murah dari negara. Saya membutuhkan ketika saya sakit negara merawat saya, ketika saya bodoh negara memberi saya ilmu dan pendidikan sehingga saya berwawasan. Saya menganggap negara sebagai orang tua yang merawat dan mendidik, bukan membantu membeli bensin dan membayar listirk. Terima kasih.